Gara-Gara Game Online, Seorang Ibu Muda Ingin Bercerai dengan Suaminya

Gara-Gara Game Online, Seorang Ibu Muda Ingin Bercerai dengan Suaminya

Berdasarkan sebuah sumber menyebutkan bahwa ada seorang ibu muda yang berumur kurang lebih 19 tahun dari India menyatakan kalau dirinya merasa lebih tertarik dengan lawan main game onlinenya daripada suaminya sendiri. Bahkan tidak segan-segan ibu muda 1 orang anak ini menginginkan untuk bercerai dari suaminya. Dia menyatakan ingin hidup bersama dengan lawan mainnya dalam bermain game online ketimbang hidup bersama suaminya yang telah diberinya satu orang anak tersebut.

Demi mewujudkan keinginannnya untuk bercerai dari sang suami, ibu 19 tahun tersebut menghubungi sebuah layanan konsultasi perempuan dan mengatakan niatnya untuk bercerai dari sang suami. Awalnya pihak layanan konsultasi ini, menganggap jika keinginan cerai sang istri dipicu karena pertengkaran-pertengkaran kecil. Namun setelah dilakukan introgasi hal sangat mengejutkan terkuak, yakni alasan dibalik keinginan sang ibu muda untuk bercerai dari suaminya.

Dengan alasan yang tidak masuk akal tersebut lantas membuat pihak layanan konsultasi perempuan ini memutuskan untuk mendatangi rumah si pelapor. Sesampainya di rumah pelapor seorang utusan dari kantor layanan konsultasi perempuan memberikan saran bahwa alasannya untuk bercerai dengan suami hanya karena keinginannya untuk bisa tinggal dan hidup bersama lawan mainnya dalam game onlinenya tersebut sangat tidak masuk akal. Bahkan utusan dari kantor layanan konsultasi perempuan ini juga menyarankan kepada ibu muda tersebut untuk menikuti rehabilitasi saja sehingga menghindarkannya dari pengaruh-pengaruh buruk akibat bermain game online. Dapatkan info bermain judi online di http://www.baba303.net . Dapatkan promo bonus menarik disini.

Namun si pelapor alias ibu muda 19 tahun ini tetap kekeh tidak mau mengikuti rehabilitasi dikarenakan dalam mengikuti rehabilitasi dia tidak diperkenankan membawa ataupun menggunakan smartphone. Tidak mau kalah dengan keinginan kuat dari pelapor yang benar-benar telah kekuh untuk bercerai dari suaminya dan hidup dengan lawan mainnya dari game online, konselor dari layanan konsultasi perempuan mencoba menjelaskan dan juga memberikan gambaran pada pelapor bahwasanya belum tentu lawan mainnya dalam bermain game online tersebut benar-benar seorang laki-laki. Bisa saja dia bermain game online dengan lawan main berupa PC, atau bisa juga lawan mainnya merupakan salah satu orang jahat yang sengaja memainfaatkannya.

Apalagi tidak pernah disebutkan pula bahwa mereka sudah pernah bertemu. Hal ini pastilah sangat mencemaskan semua pihak keluarga. Apalagi semua keluarga tidak mengetahui secara pasti siapa sosok laki-laki yang menjadi lawan main saudaranya tersebut dalam bermain game online sehingga berani mengutarakan maksudnya untuk bercerai dari sang suami hanya karena hal konyol tersebut. Setelah mendapatkan pengarahan panjang lebar dari pihak konselor, nampaknya membuat ibu muda satu orang anak ini berfikir keras. Namun dia belum mengutarakan niatnya untuk membatalkan keinginannya bercerai dari sang suami.

Ibu muda ini memutuskan untuk berfikir secara matang lagi. Dia ingin benar-benar fokus apakah niatnya untuk mengakhiri rumah tangganya dan hidup bersama lawan main game online tersebut merupakan pilihan tepat atau tidak. Selain itu dia juga belum mengenal secara pasti seperti apa sosok orang atau laki-laki yang menjadi lawan mainnya dalam game online sehingga membuatnya gila ingin hidup bersama. Apalagi disebutkan bahwa ibu muda ini baru 2 bulan lamanya bermain game online dengan lawan mainnya tersebut.

Dengan berkaca dari kejadian ini agaknya mampu menjadikan pelajaran bagi kita untuk lebih baik lagi dalam menyikapi kemajuan teknologi yang semakin canggih seperti sekarang ini. Jangan sampai kita terlena dengan kemajuan teknologi yang menjanjikan segala kemudahan dalam genggaman kita. Alangkah lebih baiknya jika kita lebih selektif lagi apalagi dalam bermain game online. Sehingga tidak mengganggu kehidupan pribadi kita bahkan mengganggu rumah tangga kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *